Liturgi Angka Kembar
Tepat pada pukul dua puluh tiga lewat lima puluh sembilan menit, sebuah keheningan yang religius menyelimuti jutaan kamar tidur di republik ini. Jemari bergetar di atas layar kaca, mata menatap tajam pada penghitung waktu mundur, dan jantung berdegup dalam ritme eskatologis. Ketika jam berganti menjadi 00:00 pada tanggal kembar—sebut saja 11.11 atau 12.12—sebuah ekstase massal terjadi. Jutaan keranjang belanja virtual dicheck-out serentak. Server raksasa teknologi berdengung menyerap kapital, sementara ribuan kilometer dari sana, seorang pekerja muda tersenyum lega karena berhasil mengamankan sepatu kets edisi terbatas atau serum wajah berbahan eksotis, tentu saja, dengan metode pembayaran yang dipecah ke dalam dua belas bulan.
Statistik resmi mencatat fenomena ini dengan bahasa teknis yang membosankan. Laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara berkala merilis data tentang lonjakan triliunan rupiah non-performing loan (kredit macet) dari sektor fintech peer-to-peer lending dan Buy Now Pay Later (BNPL), yang secara aklamasi didominasi oleh demografi usia di bawah tiga puluh tahun. Namun, membaca deretan angka tersebut semata-mata sebagai indikator makroekonomi adalah sebuah kenaifan yang fatal. Angka-angka kredit macet itu bukan sekadar catatan utang; mereka adalah saksi bisu dari sebuah prosesi teologis.
Kelas menengah Indonesia masa kini tidak lagi membutuhkan manifes politik atau diktat ideologi. Mereka telah menemukan agama yang jauh lebih mengikat, lebih menjanjikan keselamatan instan, dan memiliki infrastruktur penyebaran yang jauh melampaui tempat ibadah mana pun: konsumerisme. Dalam agama baru ini, mall adalah katedral yang pendingin ruangannya menawarkan oase dari realitas jalanan yang beringas. Merek-merek global adalah denominasi tempat mereka mengidentifikasi diri. Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) adalah perayaan hari raya agung. Dan yang paling krusial, PayLater adalah mekanisme pengampunan dosa—sebuah mukjizat finansial yang mengizinkan mereka mencicipi surga hari ini, dan membiarkan mereka menebus dosanya dengan mencicil penderitaan di bulan-bulan mendatang.
Aristokrasi Bunga Berbunga
Bank Dunia, dengan eufemismenya yang khas, mengkategorikan jutaan manusia di negeri ini sebagai aspiring middle class—kelas menengah harapan. Sebuah terminologi yang terdengar optimis, namun sebenarnya menyimpan tragedi kelas yang brutal. Kata "harapan" di situ adalah cara sopan untuk mengatakan "rentan". Mereka adalah kelompok pekerja kerah putih yang secara statistik hanya berjarak satu penyakit kronis, satu PHK, atau satu krisis keluarga dari jurang kemiskinan ekstrem.
Namun, perhatikan bagaimana mereka mendesain eksistensinya. Ada kontradiksi yang melengking antara saldo rekening di pertengahan bulan dan kurasi visual di akun media sosial mereka. Mereka hidup dengan etalase aristokrat, padahal fondasinya adalah pasir hisap kredit. Ketakutan terbesar kelas menengah ini bukanlah menjadi miskin—karena secara struktural mereka memang sudah berada di bibir jurang kemiskinan—melainkan terlihat miskin.
Di sinilah narasi resmi negara tentang "konsumsi rumah tangga sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi" (yang kerap menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto) menemukan realitas parodinya. Pemerintah bertepuk tangan melihat geliat belanja masyarakat, merayakannya sebagai tanda resiliensi ekonomi. Kenyataannya, tulang punggung itu sedang keropos karena osteoporosis utang jangka pendek. Pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan itu sebagian besarnya tidak didorong oleh surplus kemakmuran riil, melainkan oleh ilusi daya beli yang disuntikkan secara artifisial melalui aplikasi pinjaman. Kelas menengah mensubsidi statistik pertumbuhan nasional dengan menggadaikan masa depan mereka sendiri.
Mereka rela makan mi instan di minggu ketiga setiap bulan, asalkan langganan streaming premium tetap menyala dan kopi susu berlogo sirene hijau tetap tergenggam saat masuk ke lobi gedung perkantoran. Konsumsi, dalam lanskap ini, berhenti menjadi aktivitas pemenuhan kebutuhan biologis atau utilitas fungsional. Konsumsi telah bermutasi menjadi mekanisme pertahanan diri psikologis; sebuah barikade rapuh untuk menahan gempuran rasa tidak aman secara sosial.
Simulakra dan Berhala Estetika
Jika kita meminjam kerangka berpikir Jean Baudrillard—hantu intelektual yang tampaknya sedang tersenyum sinis melihat kemacetan Jakarta dan deretan kedai kopi artisan di selatan kota—apa yang terjadi saat ini adalah kejayaan nilai-tanda (sign-value) atas nilai-guna (use-value). Kelas menengah tidak membeli secangkir kopi berharga lima puluh ribu rupiah karena mereka haus atau membutuhkan kafein; air putih dan kopi saset jauh lebih efisien untuk itu. Mereka membeli tanda dari gaya hidup kosmopolitan, keanggotaan dalam kelas kreatif, dan bukti eksistensi bahwa mereka tidak tertinggal oleh gerbong peradaban urban.
Nilai guna dari sebuah barang telah menguap, digantikan oleh realitas buatan (hyperreality) di mana citra tentang kemakmuran jauh lebih berharga daripada kemakmuran itu sendiri. Identitas tidak lagi dibentuk oleh apa yang ada di dalam kepala, buku apa yang dibaca, atau gagasan apa yang diperdebatkan. Identitas dibentuk secara instan dari apa yang menempel di tubuh, apa yang dikendarai, dan pengalaman apa yang bisa diunggah ke dunia maya dalam durasi lima belas detik.
Kondisi ini bukan terjadi secara alamiah atau kebetulan semata. Ini adalah hasil dari desain sistemik yang melatih masyarakat untuk mengukur harga diri menggunakan kalkulator komoditas. Di saat gagasan-gagasan besar tentang perubahan struktural, keadilan ruang, atau redistribusi kekayaan diberangus atau dibuat impoten oleh rezim kerja, kelas menengah mengalihkan seluruh energi eksistensialnya pada apa yang bisa mereka kontrol: keranjang belanja mereka.
Sistem kapitalisme lanjut mengerti betul psikologi ini. Mereka tidak menjual barang; mereka menjual obat penenang untuk meredakan kecemasan kelas (class anxiety). Karena kelas menengah secara struktural dikunci dari atas—tidak mungkin menembus oligarki—dan diteror dari bawah—takut jatuh ke lumpur proletar—mereka mengambang di tengah-tengah. Satu-satunya cara untuk meyakinkan diri bahwa mereka sedang "bergerak maju" adalah dengan terus memperbarui inventaris benda mati yang mereka miliki. Belanja, dengan demikian, adalah sebuah tindakan eksistensial. Aku mencicil, maka aku ada.
Ruang yang Tergadai dan Produktivitas Tanpa Ampun
Mari kita perhatikan bagaimana sistem kepercayaan ini memanifestasikan dirinya dalam ruang fisik dan waktu. Ambil contoh fenomena perumahan untuk keluarga muda pekerja. Karena harga tanah di pusat kota telah dimonopoli oleh para naga properti, kelas menengah ini tersingkir ke pinggiran, membeli rumah-rumah mungil tipe 21/60 dengan tenor KPR dua puluh tahun.
Di atas lahan yang tercekik sempit itu, prioritas mereka bukanlah fungsionalitas ruang untuk bertahan hidup, melainkan estetika yang camera-ready. Mereka akan merobek desain awal, memaksakan sebuah dapur bergaya mini bar—lengkap dengan lampu gantung industrial dan kursi tinggi—meskipun hal itu berarti sirkulasi udara hancur dan ruang tamu harus dikorbankan. Mengapa? Karena mini bar adalah simbol kehidupan modern yang chic, sebuah fragmen dari apartemen Manhattan yang disimulasikan di pinggiran kabupaten. Tampilan visual memenangkan pertarungan melawan logika spasial.
Untuk membiayai sirkus estetika dan cicilan gawai ini, kelas menengah membutuhkan bahan bakar. Di sinilah mereka memeluk doktrin agama kedua: Produktivitas. Produktivitas masa kini bukan lagi soal etos kerja demi kesejahteraan, melainkan sebuah teologi tanpa Tuhan dan tanpa ampun. Mereka melakukan hustle culture, menglorifikasi kurang tidur, dan mengambil pekerjaan sampingan (freelance) sampai asam lambung kronis. Tubuh dan pikiran diperas hingga tetes terakhir di hadapan altar korporat.
Untuk apa semua kerja brutal ini? Di sinilah siklus absurdnya berputar sempurna: mereka bekerja mati-matian, mengorbankan kesehatan mental dan fisik, untuk membayar tagihan PayLater yang mereka gunakan untuk mendanai liburan healing atau sesi terapi, yang ironisnya mereka butuhkan karena mereka terlalu lelah bekerja mati-matian. Konsumerisme dan Produktivitas bekerja seperti dua rahang dari mesin penjepit raksasa yang mengunyah kelas menengah perlahan-lahan. Hutang menjinakkan radikalisme. Seseorang yang memiliki tanggungan cicilan mobil, KPR, dan tagihan kartu kredit selama tiga puluh enam bulan ke depan, tidak akan punya nyali untuk memprotes kebijakan kantor yang menindas, apalagi turun ke jalan menentang ketidakadilan negara. Kredit adalah borgol sutra yang mengunci kepatuhan sosial jauh lebih efektif daripada laras senapan aparat.
Kiamat yang Ditangguhkan
Kita tidak sedang menyaksikan generasi yang menikmati puncak kemakmuran, melainkan generasi yang sedang mensimulasikan kemakmuran menggunakan mesin waktu—menarik kekayaan dari masa depan mereka yang belum terjadi, untuk dibakar di atas tungku gengsi hari ini. Sistem kepercayaan baru republik ini telah menormalisasi kondisi di mana nilai manusia direduksi menjadi rasio limit pinjaman terhadap skor kredit.
Pada akhirnya, pameran konsumsi tanpa henti ini adalah sebuah jeritan minta tolong yang diredam oleh algoritma. Kelas menengah terjebak dalam karnaval di mana mereka adalah penonton sekaligus badut yang ditertawakan oleh sistem. Mereka terus menari, terus menggesek layar, terus menyetujui syarat dan ketentuan dengan huruf sekecil kutu, karena berhenti sejenak berarti membiarkan realitas kekosongan hidup menyergap mereka.
Namun, setiap agama mengenal konsep kiamat, dan teologi kredit tidak terkecuali. Pertanyaannya bukanlah apakah gelembung hiper-realitas ini akan pecah, melainkan kapan. Apa yang akan tersisa ketika kelak bunga majemuk akhirnya menelan pokok penghasilan? Saat server menolak permintaan kredit yang kesekian kali, dan notifikasi jatuh tempo tidak lagi bisa dibungkam dengan utang baru? Mungkin di titik itulah, di hadapan lemari yang penuh dengan baju bermerek yang belum lunas dan gawai usang yang masih dalam masa cicilan, kelas menengah kita akan menyadari satu kebenaran yang mengerikan: mereka telah menghabiskan seluruh hidup untuk membeli rantai yang kini mengikat leher mereka sendiri.