Skip to content
Back to Blog

Disrupsi adalah Eufemisme: Seni Merampas dengan Bahasa Inovasi

Di sebuah ruang rapat berlapis kaca di kawasan Sudirman, tiga pemuda berkaus polos seharga upah minimum regional berdiri di depan layar LED raksasa. Antarmuka presentasi mereka dirancang dengan estetika editorial kelas atas—minimalis, ruang negatif yang lega, tipografi sans-serif yang elegan. Di tengah layar itu, terpampang sebuah kata sakti yang diucapkan dengan artikulasi seorang nabi: Empowerment. Pemberdayaan. Mereka sedang menjual mimpi kepada barisan pemodal ventura, mempresentasikan sebuah model bisnis yang diklaim akan "mendisrupsi" rantai pasok tradisional. Di luar gedung berpendingin udara itu, di atas aspal yang memuai oleh terik matahari Jakarta, ribuan pengemudi berjaket hijau sedang berebut pesanan makanan murah, mempertaruhkan nyawa demi algoritma yang baru saja memotong insentif harian mereka secara sepihak.

Pemandangan ini bukan sekadar ironi visual; ini adalah cetak biru ekonomi digital kita. Kita telah mengimpor sebuah doktrin dari Silicon Valley tanpa melalui proses penyaringan akal sehat. Moto "Move fast and break things" yang didengungkan Mark Zuckerberg telah diadopsi sebagai kredo suci oleh para pendiri perusahaan rintisan lokal. Namun, kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya: ketika mereka bergerak cepat, apa sebenarnya yang sedang mereka hancurkan?

Pecahan kaca dari proses "penghancuran" itu tidak pernah melukai tangan para investor. Yang hancur adalah mata pencaharian kaum pekerja yang tidak memiliki jaring pengaman, industri lokal yang tidak disubsidi oleh modal asing, dan tatanan persaingan usaha yang sehat. Disrupsi, dalam praktiknya di negara dunia ketiga, hanyalah eufemisme—selembar selubung semantik yang wangi untuk menutupi bau anyir dari kanibalisasi ekonomi. Ia adalah seni merampas pasar dengan bahasa inovasi.

Ilusi Ekonomi Berbagi dan Diktator Algoritma

Mari kita bedah narasi paling sukses yang pernah dijual oleh industri teknologi: "demokratisasi". Pada masa keemasannya sekitar satu dekade lalu, aplikasi layanan transportasi daring muncul dengan janji revolusioner. Mereka menyebutnya sharing economy atau ekonomi berbagi. Tiba-tiba, setiap orang dengan sepeda motor bisa menjadi "bos bagi dirinya sendiri". Kata pekerja atau buruh dihapus dari kamus, diganti dengan istilah yang terdengar jauh lebih egaliter: mitra.

Ini adalah trik linguistik yang brilian. Dengan melabeli buruh sebagai mitra, perusahaan platform berhasil mencuci tangan dari seluruh tanggung jawab ketenagakerjaan peninggalan abad ke-20. Tidak ada asuransi kesehatan yang wajib dibayar, tidak ada jaminan kecelakaan kerja, tidak ada upah minimum, dan tentu saja, tidak ada pesangon. Pengemudi menanggung seluruh biaya produksi—kredit motor, bensin, perawatan mesin, hingga kuota internet—sementara platform mengekstraksi nilai tambah dari setiap putaran roda mereka, berlindung di balik status sebagai "sekadar penyedia teknologi".

Tentu saja, pada awalnya, ilusi ini terasa nyata. Perusahaan membakar uang triliunan rupiah dari pemodal ventura global untuk mensubsidi tarif bagi konsumen dan memberikan bonus gila-gilaan bagi pengemudi. Kita semua bersorak. Konsumen mendapat tumpangan nyaris gratis, pengemudi membawa pulang jutaan rupiah per minggu. Kita menertawakan perusahaan taksi konvensional yang megap-megap, menganggap kebangkrutan mereka sebagai hukum alam karena mereka "menolak berinovasi". Kita memuja disrupsi.

Namun, kapitalisme selalu menagih utangnya. Subsidi besar-besaran itu bukanlah kemurahan hati; ia adalah strategi predatory pricing atau jual rugi yang dirancang secara spesifik untuk membunuh kompetitor yang tidak memiliki akses ke mesin pencetak uang bernama Venture Capital. Ketika perusahaan taksi konvensional bangkrut dan monopoli—atau setidaknya oligopoli—tercipta, fase ekstraksi yang sesungguhnya dimulai. Tarif bagi konsumen merangkak naik tanpa kendali, sementara persentase potongan untuk "mitra" pengemudi semakin mencekik. Sang "bos bagi dirinya sendiri" kini menyadari bahwa ia tidak lebih dari seorang budak bagi baris-baris kode. Algoritma telah menjadi diktator baru yang tak terlihat, tak bisa diajak berunding, dan tak memiliki serikat pekerja untuk dilawan.

Joseph Schumpeter yang Dibaca Setengah Halaman

Para teknokrat dan penganjur ekonomi digital sering kali berlindung di balik teori Joseph Schumpeter tentang creative destruction (penghancuran kreatif). Mereka berargumen bahwa inovasi secara inheren akan menghancurkan cara-cara lama yang tidak efisien, demi memberi jalan bagi struktur ekonomi baru yang lebih superior. Mereka mengucapkan mantra ini setiap kali ada jerit tangis dari sektor informal yang tergusur.

Masalahnya, para penganut kultus disrupsi ini tampaknya hanya membaca buku Schumpeter setengah halaman. Mereka memuja kata "penghancuran", tetapi gagal memvalidasi klaim "kreatif" dari apa yang mereka bangun. Dalam banyak kasus, model bisnis startup yang diagungkan ini sama sekali tidak menawarkan efisiensi struktural atau inovasi teknologi yang mendasar. Aplikasi layanan pesan-antar makanan tidak membuat proses memasak atau mengantar makanan menjadi lebih efisien secara fisika. Yang mereka temukan bukanlah teknologi revolusioner, melainkan celah arbitrase regulasi dan metode penghindaran hukum perburuhan.

Venture capital beroperasi bukan sebagai mekanisme untuk mendemokratisasi akses modal, melainkan sebagai instrumen ekstraksi dan konsentrasi kekayaan. Mereka membiayai kerugian artifisial selama bertahun-tahun melalui praktik yang disebut blitzscaling. Tujuannya hanya satu: pertumbuhan pengguna secara eksponensial di atas kertas metrik Vanity (metrik kesombongan) untuk mengelabui investor berikutnya agar masuk pada ronde pendanaan selanjutnya dengan valuasi yang lebih tinggi. Ini adalah skema Ponzi yang dilegalkan, dibungkus dengan presentasi backend architecture yang rumit dan kampanye Public Relations tentang betapa mulianya misi perusahaan untuk "mengangkat hajat hidup orang banyak".

Kuburan Ritel dan Musim Dingin Para Pemimpi

Kebohongan struktural ini tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di layar sentuh ponsel kita setiap kali kita membuka aplikasi lokapasar (marketplace). Narasi yang dijual kepada publik adalah bagaimana aplikasi ini menyelamatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Platform berlagak sebagai pahlawan yang memberikan akses pasar global kepada pengrajin lokal dan pedagang kecil.

Kenyataannya, ekosistem e-commerce telah bermutasi menjadi mesin giling raksasa yang meremukkan kedaulatan pedagang kecil. Pada awalnya, mereka memang diundang masuk, diberi iming-iming bebas ongkos kirim dan komisi nol persen. Namun, begitu pasar tradisional seperti Tanah Abang dan pusat-pusat grosir lokal kehilangan denyut nadinya karena lalu lintas pembeli berpindah ke dunia maya, lokapasar mulai mengencangkan cengkeramannya. Biaya layanan dan komisi penjual dinaikkan secara sepihak.

Lebih buruk lagi, platform memiliki akses asimetris terhadap data transaksi. Mereka tahu persis produk apa yang laris, di harga berapa, dan dari demografi mana pembelinya berasal. Dengan data tersebut, platform atau afiliasi asing mereka dapat dengan mudah memproduksi barang yang sama dengan harga dumping, lalu memanipulasi algoritma pencarian agar produk merekalah yang muncul di halaman pertama. Pedagang lokal yang tadinya merasa "diberdayakan" kini harus membayar biaya iklan yang mahal hanya agar tokonya tidak tenggelam di lautan produk impor murah. Disrupsi ritel bukanlah tentang UMKM yang naik kelas; ia adalah tentang kapitalis platform yang memonopoli etalase.

Seluruh teater disrupsi ini akhirnya menemui tembok realitasnya pada periode yang kini dikenal sebagai Tech Winter di tahun 2022 hingga 2023. Ketika bank sentral global, dipimpin oleh The Fed, menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi, era "uang murah" berakhir seketika. Pemodal ventura tiba-tiba teringat pada sebuah konsep kuno yang selama satu dekade mereka abaikan: profitabilitas.

Kejutan itu brutal. Perusahaan-perusahaan rintisan bervaluasi miliaran dolar—para unicorn yang selama ini dielu-elukan oleh menteri dan presiden sebagai kebanggaan nasional—tiba-tiba terbukti tidak memiliki model bisnis yang masuk akal jika tanpa subsidi. Solusi mereka? Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Puluhan ribu pekerja, dari level rekayasawan perangkat lunak hingga staf pemasaran, dicampakkan begitu saja. Orang-orang yang direkrut dengan janji "merubah dunia" dipecat melalui surel massal pukul dua pagi atau panggilan Zoom berdurasi lima menit.

Ironi di atas ironi: sementara para pekerja kehilangan mata pencaharian mereka di tengah krisis ekonomi global, para CEO (yang sebelumnya mendesain struktur microservices perusahaan dengan anggaran tak terbatas) menulis esai panjang di LinkedIn. Mereka menampilkan wajah memelas, mengambil tanggung jawab secara retorikal, namun tetap menerima bonus tahunan yang masif. Tidak ada pemotongan aset bagi para perampas; beban kegagalan "inovasi" selalu ditimpakan ke pundak kelas pekerja.

Menolak Estetika Pemiskinan

Kita telah terlalu lama dibius oleh terminologi bahasa Inggris yang terdengar canggih. Kita menganggap valuasi sebagai nilai nyata, padahal ia hanyalah angka spekulatif. Kita merayakan munculnya decacorn lokal, tanpa menyadari bahwa kebesaran mereka dibangun di atas tulang punggung ekonomi riil yang mereka hancurkan.

Arsitektur ekonomi digital yang ada hari ini bukanlah produk dari kejeniusan teknologi semata, melainkan hasil dari desain sistem yang memang dikonfigurasi untuk menyedot kekayaan dari pinggiran dan mengumpulkannya di pusat. Ketika sebuah startup mendeklarasikan niatnya untuk mendisrupsi suatu sektor, mereka sebenarnya sedang mengumumkan niat untuk melakukan pengambilalihan secara paksa, mensubstitusi hukum pasar yang natural dengan intervensi modal ventura yang artifisial.

Sudah saatnya kita berhenti menggunakan bahasa para pemodal untuk menjelaskan penderitaan kita sendiri. Jika sebuah model bisnis mengharuskan pekerjanya bekerja 14 jam sehari tanpa jaminan kesehatan agar perusahaan bisa menekan harga, itu bukanlah inovasi—itu adalah eksploitasi keringat yang direbranding. Jika sebuah aplikasi mengharuskan pedagang kecil membayar "pajak siluman" agar tokonya terlihat oleh pembeli, itu bukanlah demokratisasi pasar—itu adalah premanisme digital.

Tidak ada yang ajaib dari disrupsi. Ia hanyalah kemiskinan struktural yang dibungkus dengan antarmuka pengguna yang mulus dan transisi animasi layar yang estetik. Selama kita masih terus memuja perusahaan yang merugi triliunan sebagai "pelopor industri" hanya karena mereka merilis fitur baru setiap kuartal, kita akan terus menjadi saksi atas kanibalisasi ekonomi kita sendiri. Kita mengira kita sedang mengunduh masa depan yang menjanjikan kemerdekaan, padahal kita sekadar menekan tombol "Setuju" pada syarat dan ketentuan dari sebuah perbudakan baru.

© 2026 Ikbal Andrian Prasetyo. All rights reserved.