Skip to content
Back to Blog

Detik Terakhirmu Sudah Dijual

Postur Manusia Tunduk

Ada sebuah pemandangan banal yang kini menjadi postur universal manusia kontemporer: leher yang menunduk, mata yang terpaku pada persegi panjang bercahaya, dan ibu jari yang bergerak secara ritmis, mengusap layar dari bawah ke atas dalam gerakan yang nyaris tanpa akhir. Dalam ruang tunggu rumah sakit, di gerbong KRL, di meja makan keluarga, hingga di ranjang tidur menjelang pukul dua dini hari, wajah-wajah kita disinari cahaya biru yang dingin. Laporan State of Mobile dan DataReportal tahun demi tahun menyodorkan angka yang menggedor akal sehat: rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan waktu enam hingga delapan jam sehari untuk menatap layar gawai. Delapan jam. Sepertiga dari jatah hidup harian yang diberikan alam semesta, dihabiskan dalam sebuah realitas yang didikte oleh algoritma.

Angka itu sering kali sekadar dibaca sebagai statistik netral, sebuah konsekuensi logis dari "kemajuan peradaban". Padahal, di balik delapan jam tersebut terdapat sebuah pergeseran tektonik mengenai bagaimana manusia mengelola kesadarannya. Kita berhenti menatap langit-langit kamar saat gelisah. Kita tidak lagi membiarkan pikiran mengembara saat terjebak kemacetan di Jalan. Setiap celah waktu yang kosong, sekecil apa pun, segera disumbat dengan asupan konten. Tidak ada ruang tersisa untuk diam. Tidak ada toleransi untuk rasa bosan. Kebosanan, yang secara historis merupakan rahim bagi imajinasi dan refleksi filosofis, kini telah dibasmi layaknya wabah penyakit. Dan pembasmian ini bukanlah sebuah kebetulan evolusioner, melainkan hasil dari sebuah desain arsitektural yang kejam dan sangat terukur.

Mitos Konektivitas dan Kematian Percakapan

Narasi dominan yang terus direproduksi oleh para teknokrat adalah bahwa penetrasi internet dan gawai pintar melahirkan masyarakat yang lebih terhubung, lebih melek informasi, dan lebih berdaya. Ini adalah omong kosong struktural yang paling berhasil dijual di abad ini. Ironi yang bersembunyi di balik layar bercahaya itu sangat telanjang: kita tidak pernah memiliki akses pada begitu banyak informasi, namun kita kehilangan kapasitas dasar untuk memahaminya secara utuh.

Bandingkan delapan jam waktu layar tersebut dengan durasi yang kita alokasikan untuk membaca buku, merenung, atau terlibat dalam percakapan yang mendalam tanpa interupsi notifikasi. Ketimpangannya bukan sekadar menyedihkan, tapi mengerikan. Ketika seorang anak muda menghabiskan tiga jam berturut-turut untuk melakukan scrolling video pendek, ia tidak sedang membangun koneksi dengan dunia. Ia sedang disuapi potongan-potongan realitas yang terfragmentasi—tarian viral selama lima belas detik, disusul video kecelakaan lalu lintas, dilanjutkan dengan tutorial memasak, dan ditutup dengan ceramah agama. Semuanya melesat masuk ke dalam korteks visual tanpa memberikan jeda bagi otak untuk mencerna makna, membangun konteks, atau merasakan simpati yang otentik.

Kita merayakan "demokratisasi informasi" sambil membutakan diri pada fakta bahwa infrastruktur yang menyediakannya tidak peduli pada kualitas informasi itu sendiri. Platform-platform ini tidak didesain untuk membuat Anda lebih pintar, lebih empatik, atau lebih tercerahkan. Mereka didesain untuk satu tujuan tunggal yang tidak bisa dinegosiasikan: memastikan mata Anda tidak berpaling dari layar. Kedangkalan berpikir dan matinya percakapan bermakna bukanlah efek samping yang tidak disengaja dari media sosial; keduanya adalah prasyarat bagi beroperasinya mesin raksasa ekonomi digital. Manusia yang berpikir panjang dan merenung secara mendalam adalah konsumen yang buruk bagi industri atensi.

Arsitektur Ekstraksi

Untuk memahami mengapa jari kita secara refleks membuka aplikasi Instagram, atau TikTok bahkan ketika kita tidak memiliki niat untuk melakukannya, kita harus membuang jauh-jauh ilusi bahwa kita memiliki kendali penuh atas kehendak bebas kita. Fenomena ini tidak bisa direduksi sekadar sebagai "kecanduan personal" atau kegagalan moral individu yang kurang disiplin. Membingkai masalah ini sebagai isu kontrol diri sama konyolnya dengan menyalahkan seekor ikan karena gagal berenang di air yang beracun.

Kita harus meminjam kerangka analitis dari Tim Wu mengenai Attention Economy (ekonomi atensi) dan Shoshana Zuboff mengenai Surveillance Capitalism (kapitalisme pengawasan). Dalam paradigma ekonomi tradisional, komoditas adalah barang fisik atau jasa yang dipertukarkan. Namun dalam arsitektur digital hari ini, sumber daya yang paling berharga dan diperebutkan dengan brutal adalah atensi manusia. Atensi Anda—waktu, fokus, dan perhatian Anda—adalah barang tambang. Ia tidak dihabiskan, melainkan diekstraksi.

Zuboff dengan tajam membongkar ilusi bahwa kita adalah "pengguna" (user) dari platform-platform gratis ini. Jika Anda tidak membayar untuk sebuah produk, maka Anda bukanlah konsumen; Anda adalah produknya. Lebih tepatnya, sisa-sisa perilaku Anda (behavioral surplus) adalah bahan bakunya. Setiap kali Anda berhenti selama 2,3 detik pada sebuah foto, setiap kali Anda mengetik sesuatu lalu menghapusnya kembali, setiap pola scroll Anda di tengah malam—semuanya direkam, dianalisis, dan dikonversi menjadi data prediktif. Data ini kemudian dijual kepada pengiklan yang ingin memanipulasi perilaku Anda di masa depan.

Oleh karena itu, platform digital mengerahkan ribuan insinyur terbaik, ahli saraf, dan psikolog perilaku dari universitas-universitas elite bukan untuk meningkatkan kesejahteraan Anda, tetapi untuk meretas kerentanan psikologis Anda. Mereka menggunakan prinsip variable reward—mekanisme psikologis yang sama yang membuat mesin judi slot begitu adiktif. Anda tidak pernah tahu apa yang akan Anda dapatkan dari usapan layar berikutnya: apakah itu dopamin dari melihat "like" baru, kemarahan karena opini politik yang berseberangan, atau sekadar kehampaan. Ketidakpastian itulah yang mengunci sistem saraf Anda. Anda sedang ditambang hidup-hidup, dan Anda menyerahkan diri dengan sukarela sambil tersenyum menatap layar.

Nilai Tukar Sebuah Kebosanan

Mari kita letakkan kerangka teoretis ini di atas meja realitas Indonesia. Pendapatan iklan digital (digital ads revenue) di republik ini telah menyentuh angka miliaran dolar AS dan terus tumbuh secara eksponensial. Dari mana uang sebanyak itu berasal? Ia tidak jatuh dari langit. Ia tidak dicetak oleh Bank Indonesia. Nilai ekonomi yang masif itu diciptakan dari konversi detik-detik hidup Anda.

Setiap kali Anda menunda tidur selama lima belas menit untuk melakukan doomscrolling—menelusuri linimasa tanpa henti untuk mencari berita buruk atau konten yang merangsang kecemasan, sebuah kebiasaan yang mengakar kuat pasca-pandemi COVID-19—Anda sedang mentransfer sebagian dari kapasitas kognitif dan kesehatan mental Anda menjadi dividen bagi para pemegang saham di Silicon Valley atau Beijing. Kita marah ketika perusahaan asing mengeruk emas di Papua atau nikel di Sulawesi, namun kita diam saja ketika perusahaan teknologi transnasional mengeruk sumber daya kognitif satu generasi secara diam-diam. Pikiran manusia Indonesia kini adalah ruang ekstraksi baru. Sumur bornya ada di dalam genggaman tangan kita sendiri.

Dampak dari ekstraksi massal ini sudah mulai terlihat secara telanjang, dan sains telah membuktikannya. Berbagai studi neurosains menunjukkan bahwa kebiasaan scrolling yang terus-menerus secara fisik mengubah struktur otak. Kapasitas kita untuk deep work—pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh dan nir-gangguan—mengalami penyusutan drastis. Kita melahirkan generasi dengan "pikiran yang selalu terinterupsi" (the interrupted mind). Ketika seseorang tidak lagi mampu membaca sebuah esai sepanjang dua ribu kata tanpa merasa gelisah ingin mengecek notifikasi ponselnya, itu bukanlah tanda kemalasan membaca. Itu adalah bukti kerusakan neurologis yang diinduksi secara sistemik.

Keberadaan doomscrolling sendiri adalah contoh paling brutal dari cara kerja kapitalisme pengawasan. Mengapa algoritma selalu menyodorkan konten yang memicu amarah, ketakutan, atau kecemasan sosial? Jawabannya sangat pragmatis: karena secara biologis, manusia berevolusi untuk memperhatikan ancaman. Konten yang membuat Anda marah atau takut akan menahan mata Anda di layar jauh lebih lama daripada konten yang membuat Anda damai. Kedamaian tidak menghasilkan retensi pengguna; kemarahan menghasilkan engagement. Algoritma tidak memiliki tendensi politik, ia hanya buta pada moralitas dan haus pada metrik. Jika kebencian sektarian atau kecemasan massal adalah bahan bakar yang paling efisien untuk membakar atensi Anda, maka mesin itu akan memompa kebencian dan kecemasan tersebut ke tenggorokan Anda 24 jam sehari.

Terminal Tanpa Pintu Keluar

Tawaran solusi yang biasanya disodorkan oleh kaum moralis atau ahli wellness sering kali terasa sangat naif: "lakukan detoks digital", "matikan ponselmu saat akhir pekan", atau "perbanyak puasa gawai". Nasihat-nasihat ini meletakkan beban perlawanan sepenuhnya pada pundak individu. Ini seperti menyuruh warga yang tinggal di samping pabrik kimia yang bocor untuk sekadar memakai masker dan bernapas lebih pelan.

Sistem ini terlalu masif dan terintegrasi terlalu dalam dengan infrastruktur kehidupan kita untuk dilawan hanya dengan tekad personal. Dari pekerjaan, birokrasi negara, transaksi keuangan, hingga interaksi sosial dasar, semuanya mensyaratkan partisipasi kita dalam ekosistem digital tersebut. Kita dipaksa masuk ke dalam sebuah kasino raksasa di mana pintu keluarnya telah disemen rapat-rapat, dan kita disuruh untuk sekadar "bermain dengan bijak".

Pada akhirnya, kita harus menghadapi kenyataan yang tidak mengenakkan ini. Perampasan atensi ini bukanlah sebuah anomali; ia adalah fungsi utama dari ekonomi digital kontemporer. Selama atensi manusia masih diperlakukan sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan, tidak akan ada teknologi yang membebaskan.

Saat Anda sampai pada ujung kalimat ini, sebuah dorongan biologis yang telah dikondisikan bertahun-tahun kemungkinan besar sedang menjalar di sistem saraf Anda. Jari Anda sudah bersiap. Sebuah notifikasi mungkin sedang berkedip, atau ruang kosong di layar Anda meminta untuk digeser ke bawah. Pertanyaannya bukanlah apakah Anda akan kembali mengusap layar itu, melainkan: ketika detik-detik terakhir dari kesadaran mandiri Anda telah direnggut dan dijual menjadi piksel-piksel iklan, siapakah sebenarnya yang masih tersisa di dalam kepala Anda?

© 2026 Ikbal Andrian Prasetyo. All rights reserved.