Di sebuah ruang serbaguna berpendingin udara yang membekukan tulang, sekelompok profesional muda berdiri canggung memegang gelas kopi yang harganya setara upah minimum harian buruh pabrik. Mereka tidak sedang bersantai. Mereka sedang bekerja paruh waktu sebagai agen humas bagi diri mereka sendiri. Di leher mereka menggantung lanyard identitas perusahaan, tetapi mata mereka memindai ruangan layaknya radar militer yang sedang mencari aset bernilai tinggi. Seseorang menyodorkan kode QR profil LinkedIn alih-alih menjulurkan tangan telanjang untuk berjabat. "Mari terkoneksi," katanya sambil memamerkan senyum asimetris, sebuah eufemisme sopan untuk sebuah interogasi brutal yang sesungguhnya berbunyi: "Apakah kau cukup berguna untuk mengeskalasi karierku?"
Pemandangan ini adalah ritual mingguan yang direproduksi massal di berbagai acara mixer, summit, atau after-hours gathering di Jakarta dan kota-kota satelitnya. Tidak ada yang datang ke sana untuk mencari teman dalam definisi klasik. Mereka datang untuk memancing. Mereka membawa kail berupa kartu nama digital dan umpan berupa elevator pitch yang sudah dilatih berulang kali di depan cermin kamar mandi. Percakapan bergulir bukan berdasarkan ketertarikan organik antarmanusia, melainkan berdasarkan kalkulasi probabilitas: seberapa besar Return on Investment (ROI) dari lima belas menit waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan orang ini berbicara? Jika jabatan orang di hadapannya terlalu rendah, tatapan mata akan segera meliar ke seberang ruangan, mencari mangsa yang lebih strategis.
Berhala Baru Bernama "Net Worth"
Kita dikepung oleh sebuah narasi dominan yang mengagungkan "kolaborasi" dan "sinergi". Slogan "Your network is your net worth" dicetak tebal di dinding-dinding coworking space, diulang-ulang layaknya mantra suci oleh para pendiri startup di berbagai panggung seminar, dan disuntikkan ke otak mahasiswa baru sejak masa orientasi kampus. Ia terdengar seperti sebuah nasihat karier yang pragmatis. Namun, jika kita membedahnya sedikit saja, kalimat itu sesungguhnya adalah sebuah pengakuan yang vulgar dan mengerikan.
Menyamakan jaringan sosial dengan kekayaan bersih (net worth) adalah deklarasi final bahwa manusia, pada hakikatnya, hanyalah komoditas yang bisa dilikuidasi. Kutipan itu meresmikan sebuah lanskap moral di mana hubungan antarmanusia yang tidak memiliki nilai tukar—baik itu finansial, profesional, maupun akses birokrasi—dianggap sebagai aset mati yang layak disingkirkan. Kita tidak lagi diperbolehkan memiliki teman yang "tidak berguna". Setiap interaksi menuntut justifikasi utilitarian. Nongkrong tanpa tujuan di pos ronda atau warung kopi pinggir jalan dianggap sebagai pemborosan waktu yang mengancam produktivitas. Sebaliknya, membeli secangkir latte seharga seratus ribu rupiah demi "mendengarkan perspektif" (baca: merayu) seorang manajer senior dianggap sebagai investasi yang rasional.
Ironinya menganga lebar. Kita memproduksi teknologi komunikasi masif yang secara teoretis dirancang untuk mendekatkan manusia, namun menggunakannya untuk menyeleksi dan mengeksklusi mereka dengan kejam. Kita mengklaim diri sebagai generasi yang paling peduli pada empati dan kesehatan mental, namun secara sukarela menundukkan leher kita pada logika pasar yang mengubah afeksi menjadi transaksi. Kita bukan lagi makhluk sosial; kita adalah entitas korporat tunggal, sebuah perusahaan rintisan bernama Diri Sendiri (Me Tbk.), yang terus-menerus melakukan proses merger dan akuisisi atas hubungan pertemanan.
Anatomi Fetisisme Relasi
Apa yang kita saksikan hari ini bukanlah sekadar perubahan etiket pergaulan akibat perkembangan teknologi. Ini adalah mutasi kapitalisme tahap akhir yang berhasil menembus dan menjajah benteng terakhir kemanusiaan kita: afeksi sosial. Karl Marx pernah merumuskan konsep fetisisme komoditas—bagaimana hubungan sosial antarmanusia di bawah kapitalisme disamarkan sebagai hubungan ekonomi antarbenda. Hari ini, rumusan itu berbalik dengan cara yang lebih pervers. Hubungan ekonomi dan kepentingan eksploitatif disamarkan sebagai persahabatan dan "koneksi profesional".
Lebih dari seabad lalu, sosiolog Georg Simmel telah memperingatkan tentang mentalitas warga metropolis. Simmel mengamati bahwa ekonomi uang di kota besar memaksa manusia untuk mereduksi seluruh realitas yang berwarna-warni menjadi angka-angka yang bisa dihitung secara kuantitatif. Mentalitas kalkulatif ini lahir sebagai mekanisme pertahanan diri dari kelebihan beban sensorik kehidupan urban. Namun, apa yang dulunya merupakan mekanisme pertahanan, kini telah menjadi ideologi utama. Tidak ada lagi ruang untuk spontanitas. Spontanitas itu inefisien. Segala sesuatu harus dijadwalkan via Google Calendar—termasuk menjenguk teman yang sakit atau sekadar bertukar kabar.
Konsep "modal sosial" (social capital) yang dulunya dikembangkan oleh pemikir seperti Pierre Bourdieu atau Robert Putnam—untuk menjelaskan bagaimana jaringan komunitas berfungsi sebagai perekat masyarakat sipil atau bagaimana kelas penguasa mereproduksi privilese mereka—kini dibajak dan dikerdilkan menjadi modul pelatihan self-branding. Modal sosial tidak lagi dipahami sebagai perekat kolektif, melainkan sebagai senjata individualistik. Dalam kerangka berpikir ini, orang lain direduksi menjadi sekadar batu loncatan. Istilah-istilah kanibalistik mulai menelusup ke dalam kosakata sehari-hari kita. Kita tidak lagi sekadar mengobrol; kita "picking someone's brain" (memetik/mengorek otak seseorang)—sebuah metafora berdarah yang menormalisasi ekstraksi pengetahuan seseorang secara gratis berkedok silaturahmi.
Dasbor Kesombongan dan Komodifikasi Akses
Laboratorium paling transparan untuk mengamati patologi ini tentu saja adalah LinkedIn. Dengan puluhan juta pengguna aktif di Indonesia, platform ini telah berevolusi dari sekadar papan pengumuman lowongan kerja menjadi panggung teater performativitas terbesar bagi kelas menengah urban. Perhatikan anatomi bahasa di linimasa tersebut: parade kesombongan yang dibungkus rapat-rapat dengan kerendahan hati palsu (humble-bragging).
Setiap unggahan selalu diawali dengan "I am thrilled to announce..." atau "Very humbled to be part of...". Kegagalan dan penolakan pun diromantisasi sedemikian rupa menjadi konten "pembelajaran kepemimpinan" hanya demi memanen impresi algoritma. Di sana, tidak ada empati yang sejati. Ketika seseorang mengucapkan selamat atas promosi koleganya, itu jarang sekali merupakan luapan kebahagiaan yang tulus. Itu adalah investasi mikro. Itu adalah cara untuk mengingatkan si kolega bahwa Anda masih ada di radar, bahwa Anda mengharapkan resiprositas di masa depan ketika Anda membutuhkan rekomendasi atau akses ke perusahaannya. Pertemanan di LinkedIn tidak diukur dari kedalaman pengenalan, melainkan dari jumlah mutual connections dan validasi endorsement atas keahlian yang belum tentu pernah Anda saksikan langsung.
Tingkat komodifikasi relasi ini mencapai kulminasinya dengan menjamurnya industri "lingkaran dalam" berbayar dan platform paid mentorship. Fenomena ini tumbuh subur di kota-kota besar Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Dulu, seorang figur publik atau profesional senior membagikan pengalamannya berdasarkan rasa kewajiban moral untuk mendidik generasi di bawahnya, atau karena adanya kedekatan organik. Sekarang, akses tersebut dipagari dengan gerbang pembayaran (paywall).
Anda diminta membayar biaya berlangganan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan murni untuk mendapatkan keanggotaan dalam grup Telegram atau Discord eksklusif. Janji yang dijual oleh para "mentor" ini bukanlah kurikulum pendidikan yang terstruktur, melainkan ilusi kedekatan. Mereka menjual "akses ke jaringan" atau "exclusive networking opportunities". Ini adalah perpeloncoan finansial: Anda membeli hak untuk berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang, suatu hari nanti, mungkin sudi melirik proposal bisnis Anda. Pertemanan telah resmi menjadi layanan Software-as-a-Service (SaaS). Hubungan antarmanusia di-lapak-kan.
Epidemi Kesepian di Tengah Kerumunan
Lalu, apa muara dari semua kalkulasi yang melelahkan ini? Sebuah paradoks isolasi yang menghancurkan jiwa. Berbagai kajian sosiologis dan laporan psikologi kerja di area urban secara konsisten memunculkan satu temuan yang mengganggu: loneliness epidemic atau epidemi kesepian. Pekerja kantoran modern dikelilingi oleh lebih banyak orang dibandingkan generasi mana pun dalam sejarah manusia. Mereka tergabung dalam belasan grup WhatsApp, memiliki ribuan pengikut di media sosial, dan menghadiri pertemuan profesional setiap akhir pekan. Namun, mereka belum pernah merasa sepihak dan seterkucil ini.
Ketika seluruh energi emosional dihabiskan untuk menjaga "koneksi" yang bersifat transaksional, sisa ruang untuk membangun persahabatan yang otentik dan tanpa agenda menjadi nihil. Kita memelihara ilusi kebersamaan melalui interaksi-interaksi artifisial yang dangkal. Pertemanan tanpa syarat—jenis hubungan di mana seseorang berani menampilkan kerentanannya tanpa takut dihakimi sebagai pihak yang "tidak profesional" atau "tidak kompeten"—kini menjadi kemewahan yang langka.
Hasilnya adalah tragedi keseharian yang sunyi. Sangat mudah menemukan seorang manajer muda di Jakarta Selatan yang ponselnya tak berhenti berdering dipenuhi notifikasi undangan pitching dan penawaran proyek. Namun, ketika roda mobilnya pecah di jalan tol Cipularang pada pukul dua dini hari di bawah guyuran hujan, atau ketika ia mengalami serangan panik di sudut kamar apartemennya yang sempit, ia memandangi daftar ratusan "koneksi" di kontaknya dengan tangan gemetar—hanya untuk menyadari bahwa tak ada satu pun nama di sana yang cukup aman untuk ia telepon. Ia punya 500+ koneksi di profil profesionalnya, tapi ia tidak punya teman. Ia kaya secara network, tapi bangkrut secara kemanusiaan.
Residu Sebuah Kalkulasi
Jadi, teruslah memoles etalase diri Anda. Poles profil itu hingga berkilau menutupi kelelahan Anda. Datangilah acara-acara networking eksklusif itu, teguklah kopi mahal yang hambar rasanya, dan bagikan senyum plastik kepada orang-orang yang wajahnya akan segera Anda lupakan esok pagi. Kumpulkan kartu nama digital itu layaknya kepingan emas, rapikan basis data koneksi Anda, dan hitunglah proyeksi return on investment dari setiap tangan yang Anda jabat. Bangunlah portofolio sosial itu hingga valuasi diri Anda menembus batas kewajaran.
Namun, ketika tirai kehidupan profesional itu pada akhirnya harus ditutup—entah karena krisis ekonomi yang menyapu jabatan Anda, atau karena usia yang membuat Anda tak lagi relevan di mata pasar tenaga kerja—bersiaplah untuk menghadapi sebuah audit realitas yang brutal. Tanyakan pada diri Anda sendiri saat Anda duduk sendirian di ruangan yang tak lagi riuh oleh tepuk tangan palsu: Jika nilai keberadaan Anda selama ini semata-mata ditentukan oleh utilitas Anda di mata jaringan Anda, lantas berapa harga yang bersedia mereka bayar ketika Anda sudah tak lagi memiliki apa pun yang bisa dihisap?